Saudara Ruslan Hamidi, Kembangan, Sumber
Rahayu, Moyudan, Sleman, Yogyakarta
Pertanyaan :
Apakah Muhammdiyah membolehkan
tahlilan, seperti mengucapkan kata “La Ilaha Illallah” sebanyak 33 kali? Saya
rasa lebih menenangkan dan menyejukkan hati serta menciptakan situasi yang
Islami.
Jawaban :
Pertanyaan tersebut sebenarnya sudah
sering ditanyakan dalam pengajian-pengajian, dan pernah juga dijawab lewat
Suara Muhammadiyah, secara singkat. Namun demikian kami tidak keberatan
menjelaskan kembali lewat Suara Muhammadiyah agar pembaca lebih mudah
memahaminya.
Jika yang dimaksudkan tahlil adalah
membaca “La Ilaha Illallah” (tiada Tuhan selain Allah), Muhammadiyah tidak
melarang, bahkan menganjurkan agar memperbanyak membacanya, berapa kali saja,
untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur`an
dan al-Hadits.
1. Dalam al-Qur`an ditegaskan sebagai berikut:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ (البقرة {2}:152)
Artinya : “Karena itu, ingatlah
kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan
janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.” (al-Baqarah {2}:152)
2. Pada ayat lainnya Allah
berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اذْكُرُوا اللهَ ذِكْرًا كَثِيرًا ( الأحزاب {33}:41)
Artinya : “Hai orang-orang yang
beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.”
(al-Ahzab {33}:41)
3. Pada ayat lainnya Allah
berfirman:
… قُلْ
إِنَّمَا هُوَ إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنَّنِي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ (الأنعام
{6}:19)
Artinya : “… katakanlah:
Sesungguhnya dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri
dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah).” (al-An’am {6}:19)
4. Pada ayat lainnya Allah
berfirman:
قُلْ
هُوَ اللهُ أَحَدٌ (1) اللهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ
يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4) (الإخلاص {112}:1-4)
Artinya : “Katakanlah: Dia-lah
Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala
sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang
pun yang setara dengan Dia.” (al-Ikhlas {112}:1-4)
5. Pada ayat lainnya Allah
berfirman:
فَاعْلَمْ
أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ (محمد {47}:19)
Artinya : “Maka ketahuilah, bahwa
sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan
bagi dosamu dan bagi dosa orang-prang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan
Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu.” (Muhammad
{47}:19)
Perintah berzikir dengan menyebut
Lafal Jalalah (La Ilaha illa Allah) dalam hadits-hadits pun banyak diungkapkan,
antara lain ialah :
1. Hadits Nabi SAW:
قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ اللهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ
إِلَهَ إِلاَّ اللهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللهِ (رواه البخارى، كتاب الصلاة،
باب المساجد فى البيوت، عَنِ عِتْبَانُ بن مَالِكُ)
Artinya : Rasullah SAW besabda;
“Maka sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas neraka terhadap orang yang
mengucapkan ‘La Ilaha Illa Allah’, yang dengan lafal tersebut ia mencari
keridhaan Allah.” (HR. al-Bukhari, Kitab as-Shalah (420), Bab al-Masajid
fi al-Buyut.)
2. Hadits Nabi SAW:
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال:
مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ
وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ
كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشَرَ رِقَابٍ وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَمُحِيَتْ
عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ
ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ أَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلاَّ
أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ وَمَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ
فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَلَوْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ
الْحَرِّ (رواه مسلم، كتاب الذكر، باب فضل التهليل، نمرة: 28/2691، عن أبى هريرة)
Artinya : Dari Abi Hurairah; Bahwa
Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa mengucapkan ‘La ilaha illa Allah wahdahu
la syarika lahu lahul-mulku wa lahul-hamdu wa huwa ‘ala kulli syai`in qadir’,
dalam satu hari sebanyak seratus kali, maka (lafal jalalah tersebut) baginya
sama dengan memerdekakan sepuluh hamba sahaya, dan dicatat baginya seratus
kebaikan, dan dihapus daripadanya seratus kejahatan, dan lafal jalalah tersebut
baginya menjadi perisai dari syaitan selama satu hari hingga waktu petang; dan
tidak ada seorang pun yang datang (dengan membawa) yang lebih afdal, daripada
apa yang ia bawa (ucapkan), kecuali orang yang mengerjakan lebih banyak dari
itu. Dan barangsiapa mengucapkan ‘subhana-llah wa bi hamdih’ (Allah Maha Suci
dan Maha Terpuji) dalam satu hari sebanyak seratus kali, maka dihapus
kesalahan-kesalahannya, sekalipun seperti buih air panas yang mendidih.”
(Diriwayatkan oleh Muslim, Kitab az-Zikr, Bab Fadlut-Tahlil, No.
28/2691, dari Abi Hurairah)
3. Hadits Nabi SAW:
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
لَأَنْ أَقُولَ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
وَاللهُ أَكْبَرُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ (رواه مسلم،
كتاب الذكر، باب فضل التهليل، نمرة: 32/2695، عن أبى هريرة)
Artinya : Dari Abu Hurairah ra., ia
berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh, saya mengucapkan: ‘Subhana-llah
wa al-hamdu lillah wa la Ilaha illa Allah wa Allahu Akbar’ (Maha Suci Allah
dan segala puji hanya bagi Allah, dan tiada Tuhan yang pantas disembah kecuali
Allah, dan Allah adalah Maha Besar) adalah lebih saya cintai daripada terbit
matahari.” (Diriwayatkan oleh Muslim, Kitab az-Zikr, Bab Fadlut-Tahlil,
No. 32/2695, dari Abi Hurairah)
Ayat-ayat al-Qur`an dan hadits-hadits
tersebut memberikan pengertian bahwa memperbanyak membaca tahlil adalah
termasuk amal ibadah yang sangat baik, sehingga mereka yang memperbanyak tahlil
dijamin masuk surga dan haram masuk neraka. Tentu saja tidaklah cukup hanya
mengucapkannya, atau melafalkannya saja, melainkan harus menghadirkan hati
ketika membacanya, dan merealisasikannya dalam kehidupan keseharian. Yaitu
dengan memperbanyak amal shalih dan meninggalkan segala macam syirik, baik
syirik besar maupun syirik kecil, yang dalam istilah Muhammadiyah; meninggalkan
TBC: takhayyul, bid’ah dan khurafat.
Takhayyul ialah mempercayai adanya khayalan datangnya bala atau musibah yang
dibawa oleh makhluk Allah, seperti burung, burung hantu, kucing, ular dan
sebagainya.
Bid’ah
ialah melakukan ibadah yang tidak pernah diajarkan dan tidak pernah diamalkan
oleh Rasulullah SAW, atau oleh para shahabatnya.
Khurafat ialah mempercayai kisah-kisah yang batil, seperti kisah Nyai Roro
Kidul, yang katanya dapat membuat manfaat dan madharat, sehingga harus diberi
sesaji, padahal laut adalah mahkluk Allah yang tidak dapat membuat manfaat dan
madharat.
Jika masih berbuat syirik, dan tidak
beramal shalih, sekalipun membaca tahlil ribuan kali, tidak ada manfaatnya.
Maka yang sangat penting sebenarnya ialah bahwa tahlil itu harus benar-benar
diyakini dan diamalkan dengan berbuat amal shalih sebanyak-banyaknya.
Maka yang dilarang menurut
Muhammadiyah adalah upacaranya yang dikaitkan dengan tujuh hari kematian, atau
empat puluh hari atau seratus hari dan sebagainya, sebagaimana dilakukan oleh
pemeluk agama Hindu. Apalagi harus mengeluarkan biaya besar, yang kadang-kadang
harus pinjam kepada tetangga atau saudaranya, sehingga terkesan tabzir
(berbuat mubazir).
Pada masa Rasulullah SAW pun perbuatan
semacam itu dilarang. Pernah beberapa orang Muslim yang berasal dari Yahudi,
yaitu Abdullah bin Salam dan kawan-kawannya, minta izin kepada Nabi SAW untuk
memperingati dan beribadah pada hari Sabtu, sebagaimana dilakukan mereka ketika
masih beragama Yahudi, tetapi Nabi SAW tidak memberikan izin, dan kemudian
turunlah ayat:
يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلاَ تَتَّبِعُوا
خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (البقرة {2}:208)
Artinya : “Hai orang-orang yang
beriman masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu
turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata
bagimu.” (al-Baqarah {2}:208)
Menurut kami, yang dimaksud dengan
situasi Islami adalah situasi yang sesuai dengan syari’at Islam, dan bersih
dari segala macam larangan Allah, termasuk syirik, takhayyul, bid’ah,
khurafat, dan lain-lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar